Minggu, 12 April 2009

hal aneh

Sering dapat email atau kiriman gambar yang isinya huruf arab tercetak di pohon, daun, lauhan, akik, pohon ruku ke barat dll ? Apa perasaanmu ? Bertambah iman atau biasa saja ?

http://thumbs.fotopic.net/584032000390.jpgTernyata setiap orang berbeda dalam mensikapi fenomena aneh (belum ketahuan jawabannya) Dan aku sangat stuju dengan Kang Latif, soal perbedan sensitifitas itu. Soale aku juga pernah diskusi panjang dengan beliau ketika sedang “magang” di HESS :) Memang benar ada yg langsung bertambah iman ketika melihat ada huruf ALLAH dalam sisik ikan Louhan, ada yg terkesima ketika ada pohon menunduk (ruku) ke arah kiblat (barat). Ada yang berdecak kagum melihat batu akik berwarna dengan lafald ALLAH, Ada pula yg meneliti air sampai detil trus menemukan kristal berbentuk ‘aneh-aneh’ …. semua akhirnya berujung ke ucapan subhanallah …. Maha besar Allah.

Tetapi aku sendiri menganggap hal diatas itu hal yang biasa saja bukan hal aneh, lah wong aku tidak sensitif dalam hal itu. Aku sering terdorong untuk dapat menjelaskan kenapa pohon ruku, yang mungkin hanya karena mengejar sinar matahari, atau karena gerakan tanah sehingga pohonnya miring yg disebut dengan “creep” atau rayapan. Lihat saja penjelasan pohon miring disini. Juga adanya huruf arab membentuk kata ALLAH bagiku bukan aneh, karena itu hanya “kebetulan” saja. Lagipula aku berpikir Islam bukan sekedar huruf arab, harusnya Islam lebih dari itu. Toh Allah sudah ada sebulm ada arab kan ? Nabi Ibrahim ngga kenal kata Allah malahan. Wong dahulu dikenal sebagai YHWH, kalau ditulis dengan huruf saat ini.

Kebetulan atau “by chance” itu sudah merupakan salah satu sunnatulah yg menjadi sebuah ilmu yang disebut ilmu statistik. Ilmu tentang peluang dipelajari tersendiri secara khusus, berkembang menjadi geostatistik dan dimanfaatkan dalam mencari tambang dan minyak.

Gambar pohon yang meliuk-liuk ini bagiku juga indah. Bukan bentuknya yang mirip orang tetapi keindahannya sejajar dengan keindahan bukit yang hijau kekuningan di Puncak itu. Juga sama dengan keindahan bunga anggrek yang warna warni itu.

Walaupun aku sering menjelaskan dengan ilmu, begitu juga aku sering mengucap subhanalllah ketika aku mumeth, judegh mikirin kenapa sumur yang aku pikirkan akan dapat minyak malah kering … ring … airpun ngga mau keluar :( karena batuannya tak berpori blass. … lah iya kan mendingan mengucap yang bagus, dari pada misuh-misuh, karena dimarahin boss karena berbuat salah. :P

Fenomena bertambah/berubahnya iman ini, seringkali muncul ketika manusia tunduk tak dapat menjelaskan fenomena apa sebenernya itu … ketika itulah dia merasa dirinya kecil. Karena “ketidak tahuannya” atas apa yang disaksikan. Demikian juga ketika ada bencana melanda dimana bencana itu diluar apa yang dipikirkannya. Walaupun sains bisa saja menjelaskan di Sumatera sering gempa. Ya, menurutku hampir semua dari kita mengucapkan Subhannallah karena merasa kecil dan merasa ketertundukan atas sunattullah-Nya.

Yang cukup menggelitik tetang fenomena ketidak tahuan ini paling tidak ada beberapa seperti dibawah ini :

1.

Yang pertama adalah ketika kita menjadikan benda-benda aneh tadi menjadi sebuah benda bertuah, atau benda jimat yang diperlakukan berbeda dengan benda-benda lain. Disitu seringkali justru mnurutku menjadikan makna taukhid (iman) bisa berubah atau terkontaminasi. Apalagi kalau sering ada orang yang berdoa didepan atau didekat barang-barang bertuah itu, bahkan seringjuga ada orang sholat didekat tempat atau benda”keramat” ini. Aku sendiri ngga tahu (ragu) apakah melakukan hal ini diperbolehkan dalam islam ? mnurutku sih ni ga bener, cmiiw (correct me if i am wrong).
2. Kedua. Apakah fenomena itu bukan hasil rekayasa atau rekacipta seseorang. Walaupun memang bisa saja diniatkan dengan bagus supaya orang lain mau bertambah imannya. Apalagi Islam menganut “segala sesuatu tergantung dari niatannya”, jadi berbohong demi niat baik itu hukumnya gimana. Skali lagi … disini aku tidak tahu (cmiiw). Disini ada ketidak jujuran untuk sebuah niat baik. Mana yang didahulukan?
Mungkin ada yang dapat menjelaskannya ?.
3. Nah salah satu lagi yang menggelitik aku selanjutnya adalah ketika fenomena ini sering mengundang perdebatan. Perdebatan pada awalnya sekedar berbeda … ya sekedar berdeba, ‘nothing more nothing less … just different‘. Namun perbedaan yang mengundang perdebatan juga bisa berkembang menjadi baik bisa juga buruk. Ada yang suka kebersamaan dengan segala persamaannya seperti seragamnya ketika kita sholat berjamaah, namun ada pula yang lebih suka perbedaan karena “berbeda itu karunia” … looh piye to iki ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar